Thursday, January 30, 2014

JIHAD SURIAH DAN MASA DEPAN EMIRAT KAUKASUS



Oleh : Ari Subiakto



Saat tersiar kabar tentang adanya para mujahidin asal Chechnya dan wilayah Kaukasus Utara yang berjihad di Suriah untuk melawan rezim Bassar al-Assad, banyak pihak yang merasa heran dan bertanya-tanya. Kenapa mereka justru berjihad di Suriah, padahal wilayah Kaukasus sendiri yang merupakan tanah air mereka masih terjajah dan tertindas oleh Rusia? Kenapa mereka tidak memilih bergabung dengan Dokka Umarov, Amir Emirat Kaukasus, untuk bersama-sama berjuang membebaskan wilayah Kaukasus dari penjajahan Rusia? Banyak pengamat menilai fakta ini sebagai sebuah ironi.

Dokka Umarov sendiri pada mulanya merasa keberatan dan kecewa dengan kenyataan adanya warga Chechnya dan wilayah Kaukasus Utara yang berjihad dan bertempur di Suriah. Umarov bahkan menegaskan bahwa mereka tidak berada di bawah komando dan tanggung jawab negara Emirat Kaukasus pimpinannya. Mereka berjuang secara independen dan berangkat atas keinginan pribadi tanpa koordinasi ataupun perintah dari Umarov. Apakah ini pertanda bahwa jihad di wilayah Kaukasus Utara melawan penjajah Rusia sudah tidak lagi memiliki prospek ke depan?


Dokka Umarov, Amir negara Islam Emirat Kaukasus.


Dalam tulisan sebelumnya (“Mujahidin Chechnya Bertempur di Suriah”) telah diungkapkan bahwa banyaknya warga asal Chechnya dan Kaukasus Utara yang berjihad di Suriah bukan dikarenakan jihad di wilayah Kaukasus melawan Rusia sudah tidak lagi memiliki prospek atau karena adanya perpecahan internal di kalangan mujahidin Emirat Kaukasus pimpinan Dokka Umarov, melainkan lebih dikarenakan oleh kondisi di lapangan yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk bergabung dengan Dokka Umarov.

Seperti yang diketahui bahwa para Mujahidin Chechen yang berjihad di Suriah bukanlah warga Chechnya yang tinggal di wilayah Chechnya yang tergabung atau tengah berjihad bersama Dokka Umarov, melainkan adalah warga etnis Chechen yang tinggal di luar wilayah Chechnya. Baik itu yang tinggal di Georgia (Pankisi Gorge), suatu wilayah pegunungan di perbatasan Georgia-Chechnya yang banyak dihuni orang-orang etnis Chechen yang dikenal sebagai kaum Kists, atau yang tinggal dan tersebar (diaspora) di berbagai negara-negara Eropa, seperti Turki, yang menjadi tempat tujuan mengungsi atau mencari suaka selama pecahnya Perang Chechnya. Orang-orang Chechen tersebut kesulitan untuk dapat pulang kembali ke tanah airnya karena pemerintah Rusia menghalang-halangi mereka, dimana wilayah perbatasan menuju ke Chechnya kini dijaga sangat ketat oleh pemerintah Rusia. Kondisi ini membuat orang-orang Chechen yang berada di luar tanah airnya tidak bisa bergabung bersama saudara-saudaranya di Chechnya, dan akhirnya lebih memilih untuk berjihad di luar tanah airnya. Namun apakah kondisi ini telah membuat orang-orang Chechen melupakan perjuangan mereka untuk meraih kemerdekaan dan penegakan syariat Islam di tanah airnya? Tentu saja tidak. Karena semua ini ternyata hanyalah bagian dari skenario besar Allah untuk menolong Mujahidin Kaukasus.

Meski perjuangan di wilayah Kaukasus Utara dalam melawan penjajah Rusia dan kaki tangannya masih tetap terus berlangsung, namun saat ini perang gerilya di pegunungan yang dilakukan oleh para Mujahidin Kaukasus pimpinan Dokka Umarov terasa semakin sulit dan berat. Selain banyaknya tokoh pejuang Kaukasus yang gugur oleh operasi-operasi pasukan khusus Rusia, para Mujahidin Kaukasus juga tengah menghadapi masalah logistik dan pelatihan. Para pemuda yang berminat dan datang dari berbagai penjuru wilayah Kaukasus untuk bergabung dengan pasukan Mujahidin Emirat Kaukasus sebenarnya memang berjumlah sangat banyak, tapi Dokka Umarov tidak dapat mempersenjatai dan melatih mereka semua.

Selain itu, di wilayah Chechnya sekarang ini sudah tidak ada lagi kamp-kamp pelatihan mujahidin seperti yang pernah didirikan oleh Khattab dan Shamil Basayev. Para pemuda yang ingin berjihad pun harus menunggu lama untuk dapat bergabung dengan para mujahidin yang hidup di wilayah pegunungan. Setelah bergabung, para pemuda yang belum memiliki pengalaman tempur itu harus hidup berpindah-pindah, naik-turun gunung dalam kondisi medan yang berat, yang semuanya itu akan sangat menguras tenaga dan kesabaran. Mereka mungkin akan bosan atau tewas lebih dulu sebelum sempat terlibat dalam satu operasi militer. Itulah sebabnya mengapa Dokka Umarov lebih memprioritaskan operasi militernya dengan melancarkan serangan-serangan pemboman yang bersifat individual di wilayah teritorial Rusia. Meskipun hal tersebut dianggap oleh banyak pihak sebagai aksi terorisme, namun untuk saat ini hanya operasi semacam itulah yang bisa dilakukan secara efektif untuk memerangi pemerintah Rusia.

Kondisi di wilayah kaukasus tersebut sangat jauh berbeda dengan kondisi medan jihad di Suriah. Wilayah perbatasan Suriah relatif terbuka dan tidak seketat atau sesulit perbatasan Chechnya yang bergunung-gunung, sehingga memungkinkan bagi para mujahidin dari berbagai penjuru dunia untuk keluar-masuk ke wilayah negara tersebut untuk melakukan aktifitasnya. Di sana juga terdapat kamp-kamp pelatihan militer dan banyak terbentuk kelompok-kelompok jihad yang muncul bak jamur tumbuh di musim hujan. Karena itu, Suriah adalah tempat yang subur dan tepat bagi para mujahidin untuk berlatih dan menimba pengalaman bertempur. Tidak terkecuali bagi para pemuda etnis Chechen atau dari wilayah Kaukasus lainnya yang selama ini hidup dan tinggal di negeri orang.

Di Suriah, mereka yang belum terlatih akan ditempa oleh medan pertempuran yang sebenarnya, terutama medan pertempuran kota (urban combat). Jika terseleksi, maka dapat dipastikan mereka akan menjadi unit-unit mujahidin yang tangguh dan profesional dalam memerangi orang-orang kafir. Ketika mereka pulang kembali ke tanah airnya di Chechnya atau wilayah Kaukasus Utara lainnya, mereka telah benar-benar siap tempur untuk menghadapi Rusia. Pihak Emirat Kaukasus pun tidak perlu lagi repot-repot untuk mempersenjatai dan melatih mereka. Dengan pengalaman dan hubungan baik yang terjalin antar mujahidin di Suriah, tidak menutup kemungkinan orang-orang Chechen yang berjihad di Suriah akan mampu menciptakan jaringan dan membuka jalan untuk memasok persenjataan dan mendatangkan para militan Islam dari luar untuk berjihad di Kaukasus. Jika ini sampai terjadi, maka habislah Rusia. Prediksi inilah yang kemudian sangat ditakuti oleh pemerintah Rusia.

Namun terlepas dari apa pun upaya yang mungkin dilakukan oleh Rusia untuk mencegah masuknya para mujahidin veteran perang Suriah ke wilayahnya, itu semua hanyalah masalah waktu. Cepat ataupun lambat mereka pasti akan kembali. Orang-orang Chechen itu memang pergi terusir sebagai pengungsi, namun mereka akan kembali lagi ke tanah airnya sebagai pejuang-pejuang yang terlatih. Para komandan mujahidin asal Chechnya di Suriah selalu mewanti-wanti para pemuda etnis Chechen yang berjihad di Suriah untuk tidak melupakan perjuangan di tanah airnya. Seperti yang dikatakan oleh Abu Isa al-Shishani, salah seorang pejuang Chechnya yang turut berjihad di Suriah, Untuk mereka (para pemuda Chechnya) yang telah berada di Suriah, nasehat saya adalah jangan bermalas-malasan untuk terus mendapatkan lebih banyak pengalaman di semua medan pertempuran dan terus mencari kemungkinan untuk pulang kembali ke Kaukasus untuk melanjutkan jihad di sana. Jadilah orang yang tabah dan sabar di segala hal, … Hindari isu dan bicara hal-hal yang tak berguna yang hanya akan melemahkan diri kita. Jangan membuang-buang waktu di satu basis militer jika sedang tidak ada misi tempur. Selanjutnya Abu Isa juga mengatakan, “Sejauh yang bisa saya katakan, Jihad di Suriah, sama seperti Jihad di Kaukasus, adalah pertanda dari kebangkitan Islam dunia.

Hari ini di Suriah, para pemuda dari wilayah Kaukasus bisa mendapatkan pelatihan militer, juga dapat membentuk pribadi mereka sebagai seorang muslim dan memperkuat diri mereka sebagai seorang mujahidin, sehingga mereka kelak akan dapat melakukan penetrasi ke dalam wilayah pendudukan Rusia melalui jalur-jalur “resmi” dan menyerang wilayah Rusia tanpa dikomando, dan cepat atau lambat semua itu akan mengantarkan kepada kejatuhan imperium Rusia yang akan kami paksa untuk mundur dari wilayah Kaukasus seperti halnya mereka mundur dari Afghanistan dan Eropa Timur.

Jadi bagi mereka yang ingin berjihad di wilayah Rusia setelah usai jihad di Suriah harus memiliki satu rencana yang jelas dan bertindak sesuai dengan rencana tersebut, ada baiknya pula mereka perlu menyembunyikan apa yang mereka lakukan di Suriah, jadi jangan sampai mereka tertangkap oleh video atau kamera (yang akan membuat identitas mereka terungkap atau teridentifikasi oleh pihak Rusia, sehingga akibatnya kelak akan sulit bagi mereka untuk dapat masuk ke wilayah Rusia tanpa dikenali).”

Apa yang dikatakan oleh Abu Isa tersebut bukanlah hanya sekedar gertak sambal, apalagi menurut klaim pemerintah Suriah sendiri, seperti yang dilansir oleh pihak EA World View, bahwa sampai awal Desember 2013, ada sekitar 1.700 pejuang muslim Chechnya di Suriah yang ikut bertempur bersama-sama dengan kelompok-kelompok jihad lokal. Mengetahui klaim laporan dari Damaskus ini, pemerintah Rusia tentu saja sangat kaget. Dengan cemas mereka bertanya-tanya, apakah estimasi ini terlalu dibesar-besarkan ataukah memang merupakan suatu fakta di lapangan? Pemerintah Rusia sama sekali tidak menyangka jumlahnya akan sebesar itu. Meski banyak analis, seperti Mairbek Vatchagaev, seorang sejarawan Chechnya dan analis politik di Kaukasus Utara, yang berpendapat bahwa jumlah pejuang Chechen yang bertempur di Suriah kemungkinan hanya berada dalam kisaran puluhan hingga paling banyak 100 orang.

Namun terlepas dari berapa jumlah mereka yang sebenarnya, fakta adanya orang-orang Chechen yang berjihad di Suriah ini akan menjadi ancaman tersendiri yang akan membuat para pejabat pemerintah Rusia dan kaki tangannya tidak dapat tidur nyenyak. Seperti yang diungkapkan oleh Sergei Smirnov, selaku Wakil Direktur Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) yang menyatakan keprihatinan sekaligus wujud ekspresi ketakutan pemerintah Rusia. Ia tak henti-hentinya mengatakan bahwa pejuang Chechnya yang berada di Suriah adalah ancaman, ancaman, dan ancaman serius bagi Rusia. “Mereka akan datang kembali kesini, dan pasti menimbulkan ancaman besar,” ujar Sergei Smirnov.

Selain sebagai ajang untuk melatih diri dan menimba pengalaman bertempur di medan perang yang sebenarnya, tujuan para Mujahidin Chechen dan Kaukasus berjihad di Suriah adalah untuk memberikan pukulan terhadap sekutu utama Rusia di wilayah Timur Tengah, sehingga perjuangan mereka melawan rezim Bassar al-Assad di Suriah sama saja dengan memberikan pukulan secara tidak langsung terhadap pemerintah Rusia. Pukulan ini memang tidak memberikan dampak secara langsung yang bisa terlihat, namun akan sangat terasa pengaruhnya bagi Rusia di masa yang akan datang, dimana sedikit-banyaknya pihak Rusia dipastikan akan mengeluarkan anggaran lebih atau tenaga dan upaya ekstra untuk membantu sekutunya di wilayah Timur Tengah tersebut.

Dari informasi yang dikeluarkan oleh pihak Kavkaz Center, diketahui sebuah fakta yang menarik, bahwa di Suriah, Mujahidin Chechnya ternyata juga bertempur melawan musuh yang sama seperti di negeri asalnya, yaitu tentara penjajah Rusia. Fakta mengenai hal ini pertama kali diungkap oleh Kavkaz Center pada pertengahan bulan November 2013 lalu, yang menampilkan sejumlah foto personil tentara bayaran (mercenaries) asal Rusia yang bertempur untuk membantu rezim Alawiyah Nushairiyyah Bashar al-Assad.

Tentara bayaran asal Rusia ini menyebut diri mereka sebagai “Korps Slavia”. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa mereka adalah para purnawirawaan pasukan khusus (Spetsnaz) atau dari unit tentara AU Rusia (paratroopers), anggota polisi unit khusus, polisi anti huru-hara, dan gerombolan bersenjata yang diberhentikan dari unit kesatuannya (desertir). Tidak menutup kemungkinan bahwa mereka itu adalah para veteran Perang Chechnya yang telah banyak melakukan tindak kejahatan perang dan kemanusiaan selama bertugas di wilayah Chechnya.


Korps Slavia, tentara bayaran (mercenaries) asal Rusia yang bertempur membantu rezim Bashar al-Assad di Suriah.


Informasi dari Kavkaz Center ini kemudian mendorong pihak surat kabar Petersburg Fontanka melakukan investigasi sendiri atas dugaan keterlibatan tentara bayaran Rusia dalam konflik di Suriah. Pihak Fontanka berhasil mewawancarai sekelompok tentara bayaran Rusia dan mendapatkan informasi terkait mengenai beberapa rincian partisipasi mereka dalam konflik di Suriah. Dari informasi tersebut dapat diketahui bahwa pihak militer Suriah menempatkan batalyon tentara bayaran Rusia ke dalam pasukan cadangan. Di bulan Oktober 2013, jumlah kekuatan “Korps Slavia” ini adalah sebesar 267 personil yang terbagi ke dalam 2 kompi. Mereka selain diperlengkapi dengan senapan serbu seri AK, juga dilengkapi dengan senapan mesin berat dan pelontar granat. Sementara untuk senjata anti-pesawat dan mortar yang mereka pakai boleh dibilang dari model yang sudah usang dan merupakan sisa-sisa peninggalan Perang Dunia II antara tahun 1939 – 1943. Batalyon tentara bayaran Rusia ini dilengkapi pula dengan empat tank tempur T-72 dan beberapa ranpur lapis baja seri BMP untuk mobilitasnya.

Untuk menghadapi kekuatan perlawanan para Mujahidin, pihak militer Suriah ternyata tidak hanya menyewa tentara bayaran asal Rusia, namun juga dari Iran dan milisi Hizbullah yang merupakan sekutu Syiah mereka. Jumlah tentara bayaran tersebut bahkan mencapai hingga ribuan. Padahal selama ini rezim Bashar al-Assad selalu gencar melontarkan tuduhan bahwa kaum pemberontak Suriah didukung oleh para teroris asing dan bukan dari rakyatnya sendiri. Meskipun lucunya, Assad yang Syiah itu mengklaim dirinya masih tetap didukung oleh rakyat Suriah yang mayoritas warga Sunni dan menentang ajaran Alawiyah.

Faktor penyebab mengapa pemerintah Suriah sampai menyewa begitu banyak tentara bayaran juga terungkap dari keterangan Abu Isa al-Shishani yang mengatakan bahwa, “… tentara Assad mengalami demoralisasi dan kehilangan motivasi untuk bertempur. Terlepas adanya dukungan yang kuat dari Rusia, Iran, dan Cina. Tentara Assad sebenarnya mengalami intimidasi internal yang membuat mereka terpaksa untuk berperang. Hanya tentara bayaran dari Iran dan Lebanon (milisi Hizbullah) yang semangat untuk berperang, namun itu pun demi uang yang banyak.

Kondisi yang diungkapkan oleh Abu Isa tersebut secara tidak langsung juga turut dibenarkan oleh pidato Sekjen Hezbollah sendiri, Hassan Nasrullah, yang mengungkapkan bahwa tanpa dukungan sekutu-sekutunya, rezim Bashar al-Assad dapat dipastikan sudah jatuh sejak dulu. Rezim Assad benar-benar sangat tergantung kepada sekutu-sekutunya, terutama dari Rusia, Iran, dan milisi Syiah Hezbollah di Lebanon, untuk dapat tetap melanggengkan kekuasaannya. (***)


Sumber Website:


http://www.kavkazcenter.com


http://www.eaworldview.com


http://www.shoutussalam.com

1 comment:

  1. memang kalau tentara suriah sudah tahu kuatnya pejuang jihad jadi sdh tak berdaya

    ReplyDelete