Tuesday, May 5, 2015

Mengungkap Sosok Dajjal dan Skenario Kemunculannya


Oleh : Ari Subiakto
 


Siapakah Dajjal itu? Dajjal adalah suatu sosok figur yang telah dinubuatkan oleh Rasulullah SAW dan para nabi lainnya yang kelak akan muncul menjelang Hari Kiamat. Kemunculannya merupakan salah satu dari tanda-tanda besar bahwa telah dekatnya hari kehancuran bumi dan seisinya itu. Dajjal akan menyebarkan kesesatan dan fitnah ke seluruh muka bumi, menyelewengkan keimanan umat manusia sehingga mereka tergelincir untuk tidak lagi mau beriman dan menyembah kepada Allah SWT dalam arti yang sebenarnya. Bagi umat Islam, kemunculan Dajjal adalah merupakan suatu kepastian karena riwayat yang menyampaikan perihal tentang kemunculannya dibicarakan di dalam banyak hadist yang tingkat kebenarannya mencapai tingkatan mutawattir yang artinya tidak diragukan lagi dan telah disepakati kebenarannya oleh semua ulama dari kalangan ahlussunnah.


Tetapi siapakah sebenarnya Dajjal itu? Dajjal adalah seorang anak manusia keturunan dari Bani Israel (Yahudi). Dia bukanlah jin ataupun alien dari planet lain, melainkan hanyalah manusia biasa. Kelebihannya adalah memiliki otak yang sangat cerdas dan termasuk salah satu mahluk yang ditangguhkan ajalnya oleh Allah atau yang disebut pula sebagai Minal Munzharin, sama seperti halnya Nabi Isa yang kelak akan turun untuk membunuhnya, juga Iblis yang ditangguhkan ajalnya karena ingin menggoda umat manusia hingga Hari Kiamat. Sebagai seorang manusia “highlander” yang memiliki umur yang panjang dan otak yang cerdas, maka Dajjal pun mampu menyerap dan mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi yang pernah dicapai oleh banyak peradaban umat manusia dari segala penjuru bumi, baik itu yang telah lama punah maupun yang hingga saat ini masih eksis, termasuk ilmu-ilmu sihir.


Dajjal sendiri bukanlah nama aslinya, melainkan adalah nama julukannya yang secara bahasa berasal dari kata dajala yang berarti “berdusta” atau “menutupi”. Dijuluki “Dajjal” karena manusia ini menutupi kebenaran dengan kata-kata dustanya, sehingga “Dajjal” juga bisa diartikan sebagai seorang pendusta besar yang menutup-nutupi kebenaran dengan kebohongannya tersebut. Kebohongan terbesar atau fitnah terbesarnya yang kelak akan digaungkan kepada seluruh umat manusia di muka bumi menjelang Hari Kiamat adalah mengaku dirinya sebagai Tuhan.


“Di awal kemunculannya, Dajjal berkata, ‘Aku adalah nabi’. Padahal, tidak ada nabi setelahku. Kemudian, ia memuji dirinya sambil berkata, ‘Aku adalah Rabb kalian.’ Padahal, kalian tidak dapat melihat Rabb kalian sehingga kalian mati.” (HR. Ibnu Majah)


Dalam sejumlah literatur, ada yang mengatakan bahwa Dajjal sesungguhnya bukanlah merujuk pada seseorang, melainkan merujuk pada suatu agama tertentu (Nashrani). Ada pula yang mengatakan bahwa Dajjal sebenarnya adalah suatu ras atau suku bangsa tertentu (bangsa Eropa), atau suatu negara (Amerika atau Israel), atau suatu kelompok rahasia, seperti Illuminati yang memiliki lambang segitiga atau piramid dengan mata satu di puncaknya yang menyimbolkan “Dajjal Si Mata Satu”. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Dajjal sebenarnya adalah suatu paham atau ideologi, seperti halnya paham materialis yang memandang segala sesuatu hanya dari sebelah mata saja, yaitu dari keduniawian. Pendapat-pendapat tersebut di atas boleh dibilang keliru atau salah tafsir. Semuanya itu memang berhubungan dengan Dajjal, tetapi sesuai dengan sejumlah hadist shahih Rasulullah SAW, dengan begitu amat jelas dan gamblang menyebutkan bahwa Dajjal sesungguhnya adalah merujuk kepada sosok seseorang atau personal. Seperti sejumlah ciri yang disebutkan dalam hadist-hadist berikut ini:


Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwasannya Rasulullah bersabda; “Sesungguhnya Allah taala tidak buta. Ketahuilah bahwa al-Masih ad Dajjal buta sebelah kanannya, seakan-akan sebuah anggur yang busuk.” (HR. Bukhari)


Dari An-Nawwas bin Sam’an r.a., berkata Rasulullah; “Sesungguhnya, Dajjal adalah seorang pemuda yang rambutnya keriting, matanya rusak, seperti aku melihat mirip dengan Abdul ‘Uzza ibnul Qathn.” (HR. Muslim)


Diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit, berkata Rasulullah; “Sesungguhnya, Dajjal adalah seorang laki-laki yang pendek, afja’ (pengkor), keriting, matanya buta sebelah tidak timbul tidak pula berlubang. Kalau ia membuat kalian ragu-ragu ketahuilah Rabb kalian tidak buta.” (HR. Daud)


Dari Huzaifah, Rasulullah SAW bersabda; “Dajjal matanya buta sebelah, cacat mata kirinya, tebal rambutnya, dia memiliki surga dan neraka. Surganya adalah neraka Allah, sedangkan nerakanya adalah surga Allah.” (HR. Muslim)


Diriwayatkan dari Annas r.a., Rasulullah SAW bersabda; “Tidaklah seorang nabi pun, kecuali memperingatkan umatnya dari bahaya si buta, sang pendusta. Ketahuilah sesungguhnya dia buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidak buta. Dan, sesungguhnya di antara kedua matanya tertulis ‘KAFIR’. Dajjal besar badannya.” (HR. Bukhari)


Dari Annas r.a., Rasulullah bersabda; “Tiada seorang Nabi pun yang diutus oleh Allah, melainkan ia benar-benar memberikan peringatan kepada umatnya tentang mahluk yang buta sebelah matanya serta maha pendusta. Ingatlah sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya dan sesungguhnya Tuhanmu ‘Azza wa jalla tidaklah buta sebelah mata seperti Dajjal. Di antara kedua matanya itu tertulislah huruf-huruf ‘kaf’, ‘fa’, ‘ra’ – yakni kafir.” (HR. Muttafaq’alaih)


Dari hadist-hadist tersebut di atas telah sangat jelas sekali bahwa Dajjal adalah merujuk pada sosok seorang laki-laki atau seorang manusia yang memiliki sejumlah ciri-ciri fisik yang jelas. Dalam buku berjudul “Dajjal akan Muncul dari Segitiga Bermuda” (1996) yang ditulis oleh Muhammad Isa Dawud, dikatakan bahwa Dajjal adalah manusia yang memiliki umur sangat panjang dan ia telah hidup sejak zaman Nabi Musa a.s. Dajjal tersebut sesungguhnya adalah sosok bernama Samiri yang telah menyesatkan kaum Bani Israel sehingga mereka menyembah patung anak sapi yang terbuat dari emas. Nama Samiri dan peristiwa penyesatan yang dilakukannya tersebut diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Thaha.


Allah berfirman: “Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri.” (QS. Thaha (20): 85)


Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya,” kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa.” (QS. Thaha (20): 87 – 88)


Berkata Musa: “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?” Samiri menjawab: “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku.” (QS. Thaha (20): 95 – 96)


Dari sejumlah ayat di atas, terlihat bahwa sosok bernama Samiri ini memiliki kecenderungan hawa nafsu untuk selalu menyesatkan orang lain dengan fitnah dan kebohongannya. Ia senantiasa berupaya untuk membelokkan atau menggelincirkan keyakinan atau keimanan suatu kaum terhadap Allah dengan tipu dayanya sehingga mereka pada akhirnya kemudian tidak lagi beriman kepada Allah dalam hakikat yang sebenarnya, melainkan telah menggantinya dengan sosok-sosok tuhan lainnya sebagai sesembahan. Tidak cukup hanya membelokkan keimanan kaum Bani Israel sehingga mereka menyembah berhala berupa patung anak sapi, tetapi Samiri juga memfitnah Nabi Musa dengan mengatakan bahwa Nabi Musa telah lupa dengan Tuhannya.


Menurut Ibnu ‘Abbas, yang dimaksud dengan Nabi Musa telah “lupa” adalah beliau telah “tersesat di jalan”. Dalam satu riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas, disebutkan bahwa Nabi Musa pergi menemui Tuhannya, namun ia tersesat dan tidak mengetahui tempat pertemuannya. Sepeninggal Nabi Musa yang tengah pergi menemui Allah untuk menerima Sepuluh Perintah Tuhan, dimana saat itu tanggung jawab kaum Bani Israel diserahkan kepada saudaranya, Nabi Harun, memang muncul berbagai isu dan rumor di tengah-tengah kaum Bani Israel seputar kepergian Nabi Musa. Ada yang mengatakan bahwa Nabi Musa telah tersesat-lah, telah lupa kepada mereka, dan lain sebagainya. Pada saat itulah tampil Samiri dengan fitnah dan kebohongannya. Ia menyeru untuk membuat patung anak sapi dengan menggunakan perhiasan-perhiasan yang dibawa kaum Bani Israel dari Mesir, dan kemudian membuat suatu pernyataan bohong yang menyesatkan dan mendeskreditkan Nabi Musa dengan mengatakan; “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa”.


Dalam surat Thaha ayat 87 - 88 tersebut di atas juga terlihat bahwa upaya Samiri untuk menyesatkan kaum Bani Israel juga tak cukup hanya dengan kata-kata fitnahnya, melainkan juga dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Dalam kasus ini, ilmu pengetahuan tersebut diperlihatkan dalam membuat patung anak sapi yang mampu “berbicara” atau mengeluarkan suara, dimana ilmu atau trik tersebut tidak diketahui oleh orang lain melainkan hanya dirinya sendiri yang disebutnya sebagai “jejak rasul”, namun tidak menutup kemungkinan bahwa ilmu tersebut juga diperoleh Samiri dari tukang-tukang sihir Fir’aun selama kaum Bani Israel berada di Mesir. Dari sini terlihat, bagaimana sosok bernama Samiri ini menyerap dan mempelajari ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh suatu kaum untuk kemudian dipergunakannya dalam menyesatkan orang lain.


Jika kita mencermati karakteristik fitnah Samiri dalam kasus penyembahan patung anak sapi yang dilakukannya kepada kaum Bani Israel seperti yang dikisahkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an tersebut di atas, kita akan melihat fitnah-fitnah semacam itu ternyata terus ada dan berkembang sepanjang sejarah peradaban umat manusia di muka bumi ini. Fitnah-fitnah tersebut memang muncul dalam bentuk dan redaksional yang berbeda-beda tetapi apabila dicermati sesungguhnya memiliki karakteristik yang sama dan bermuara kepada hasil yang sama, yaitu membelokkan keimanan terhadap Tuhan yang sebenarnya dengan menggantikannya kepada sosok tuhan yang lain, atau tetap beriman pada Tuhan yang sebenarnya, tapi tidak pada hakikat yang sebenarnya, sehingga sama saja dengan kafir atau tidak mempercayai adanya Tuhan.


Mengingat bahwa Samiri atau Dajjal ini adalah manusia yang memiliki umur panjang, maka tentunya ia pernah melewati berbagai zaman, hadir dalam berbagai peristiwa besar, dan berada dalam berbagai peradaban dan kebudayaan umat manusia, baik yang telah punah maupun yang hingga kini masih ada, termasuk secara diam-diam berada di tengah-tengah umat sejumlah Nabi yang diutus sesudah Nabi Musa, kecuali pada zaman Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Tanpa disadari atau diketahui, Samiri juga menyamar dan berada di balik sejumlah tokoh besar dunia yang banyak berperan dalam mengubah sejarah peradaban umat manusia di dunia, baik itu secara politik maupun dalam bentuk pemikiran atau ideologi.


Satu dari banyak hal yang sangat mungkin lahir dari hasil pemikiran Samiri alias Dajjal ini adalah lahirnya agama Kristen. Seperti yang kita ketahui bahwa tidak ada fitnah yang lebih besar selain dari fitnah Dajjal, dan tidak ada fitnah yang lebih besar selain dari memfitnah Allah. Ya, memfitnah Allah dengan mengatakan bahwa Allah memiliki anak, seperti yang dikatakan oleh orang-orang Kristen selama ini. Ini tidak lain adalah akal-akalan Dajjal. Dajjal juga tak hanya memfitnah Allah, tetapi sekaligus pula memfitnah Nabi Isa dengan mengatakan bahwa Yesus atau Nabi Isa adalah putra Allah yang sengaja dikorbankan di tiang salib untuk menebus dosa umat manusia. Orang-orang kemudian digiring untuk mempercayai konsep keimanan yang telah diselewengkan ini, sehingga hasilnya bisa kita lihat sendiri, orang-orang Kristen tidak lagi menyembah Allah Yang Esa, melainkan menyembah Yesus. Ini adalah fitnah yang sangat khas keluar dari hasil pemikiran seorang seperti Dajjal atau Samiri karena terdengar sama persis seperti kasus penyembahan patung anak sapi emas oleh kaum Bani Israel.


Mengingat bahwa Dajjal atau Samiri ini adalah manusia “highlander”, maka tidaklah menutup kemungkinan bahwa salah seorang yang turut hadir dalam Konsili Nicea pada tahun 325 M untuk mempengaruhi Kaisar Konstantin meresmikan dan menobatkan Yesus sebagai Tuhan adalah seseorang bernama Samiri ini. Itulah sebabnya kenapa dalam sejumlah riwayat hadist hanya Nabi Isa a.s. yang berhak dan mampu untuk membunuh Dajjal, seperti yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tak ada seorang pun punya kekuasaan untuk mengatasi Dajjal kecuali Nabi Isa bin Maryam.” Hal tersebut bukan hanya karena Nabi Isa a.s. adalah sama-sama manusia “highlander”, tetapi lebih dikarenakan yang jadi korban terbesar dari fitnah Dajjal tersebut adalah Nabi Isa. Sebagai rasul utusan Allah, nama baik Nabi Isa a.s. tercemar akibat ulah Dajjal yang telah menobatkannya sebagai anak Allah yang kemudian disembah oleh banyak orang. Sehingga selain untuk membunuh Dajjal, Nabi Isa a.s. juga diturunkan untuk menghancurkan kayu salib, yang artinya menghapus agama Kristen yang telah menuhankan dirinya, kemudian membersihkan namanya, dan meluruskan kepada keyakinan atau keimanan yang sebenarnya seperti risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.


Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, niscaya, sudah amat dekat sekali saat turunnya Isa putra Maryam di kalangan kamu semua yang bertindak sebagai seorang hakim yang adil. Dia akan mematahkan semua kayu salib dan membunuh babi.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).


Dengan menghancurkan kayu salib, maka sebelum beliau wafat, semua orang Nashrani (kaum ahli kitab) yang pada mulanya menuhankan Nabi Isa, akan sadar dan bertaubat, untuk kemudian beriman kepada Nabi Isa dengan iman yang sebenarnya (mengakui Nabi Isa sebagai utusan Allah dan bukan sebagai anak Allah), serta meng-Esa-kan Allah SWT sebagaimana mestinya. Seperti yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 159 berikut ini:


Tidak ada seorang pun dari ahli kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan, di hari kiamat nanti, Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An-Nisa (4): 159)


Fakta hadist yang menyebutkan bahwa Dajjal tidak dapat dibunuh oleh siapa pun juga kecuali hanya oleh Nabi Isa a.s., menunjukkan bahwa sosok bernama Samiri yang disebutkan dalam Al-Qur’an besar kemungkinan adalah memang benar sosok Dajjal itu sendiri yang ada di masa lalu, mengingat figur bernama Samiri ini juga merupakan figur yang “tak tersentuh” oleh Nabi Musa a.s., sehingga muncul dugaan kuat bahwa sosok Samiri inilah yang kelak akan ditakdirkan oleh Allah SWT sebagai Dajjal yang akan menimbulkan fitnah bagi umat manusia menjelang Hari Kiamat.


Dalam buku berjudul “Dajjal: Risalah Akhir Zaman” (2009) karya Saiful Amin Ghofur diungkapkan bagaimana sosok bernama Samiri ini tidak dapat tersentuh (baca: dibunuh) oleh Nabi Musa a.s. Padahal kita mengetahui bahwa saat Nabi Musa kembali kepada kaumnya, setelah menerima “Sepuluh Perintah Tuhan”, dan melihat kaumnya telah beralih menyembah patung anak sapi emas, beliau amat sangat murka hingga tanpa sadar melemparkan Loh Batu berisi “Sepuluh Perintah Tuhan” yang ia dapat dari Allah hingga terbelah, dan kemudian dengan kasar menarik janggut dan memegang kepala saudaranya, Nabi Harun, yang sebelumnya telah diserahi amanat untuk menjaga kaumnya. Seperti yang tergambar dalam Al-Qur’an surat Thaha ayat 92 – 94.


Berkata Musa; “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?” Harun menjawab: “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku.” (QS. Thaha (20): 92 – 94)


Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Nabi Musa adalah sosok pribadi yang tegas, keras, dan memiliki watak yang temperamen apabila melihat kemungkaran. Beliau akan langsung marah besar apabila melihat pelanggaran dalam hal keimanan maupun kemanusiaan. Ingat bagaimana beliau memukul orang Mesir yang tengah menganiaya kaum Bani Israel hingga orang Mesir itu tewas seketika. Maka sangatlah wajar apabila Nabi Musa sangat marah begitu melihat kaumnya menyembah patung anak sapi. Hukuman bagi mereka, kaum Bani Israel yang telah menyekutukan Allah dengan menyembah patung anak sapi itu pun tak tanggung-tanggung. Mereka semua diperintahkan untuk bertobat dengan cara membunuh diri mereka sendiri. Seperti yang tergambar dalam surat Al-Baqarah ayat 54 berikut ini:


Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku! Kamu benar-benar telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sesembahan), karena itu bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu, itu lebih baik bagimu di sisi Penciptamu. Dia akan menerima tobatmu. Sungguh, Dialah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah (2): 54)


Terlepas dari begitu beratnya konsekuensi dari perbuatan sesat menyembah patung anak sapi tersebut, dan bagaimana marahnya Nabi Musa hingga bersikap amat kasar terhadap Nabi Harun, namun anehnya, sikap yang keras dan konsekuensi yang berat tidak ditujukan kepada Samiri. Perhatikan bagaimana sikap dan perkataan Nabi Musa a.s. serta apa keputusan yang diberikannya kepada Samiri yang notebene adalah dalang dan biang kerok dari semua kesesatan tersebut. Nabi Musa a.s. ternyata tidak menghukum atau membunuhnya, melainkan hanya sekedar bertanya dengan kalimat yang sangat lunak dan kemudian mengusirnya, seperti yang tergambar jelas di dalam Al-Qur’an surat Thaha ayat 95 – 97 berikut ini.


Berkata Musa: “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?” Samiri menjawab: “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku.” Berkata Musa: “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: “jangan menyentuh (aku).” (QS. Thaha (20): 95 – 97)


Mengapa Nabi Musa a.s. tidak menghukum atau membunuh Samiri karena perbuatannya? Jawabannya adalah karena pada saat itulah Nabi Musa baru menyadari bahwa sosok yang tengah dihadapinya itu sesungguhnya adalah Dajjal. Manusia yang ditangguhkan ajalnya oleh Allah SWT dan tidak dapat dibunuh oleh siapa pun juga melainkan hanya oleh seorang Nabi dari masa depan (Nabi Isa), dan kemunculannya kembali kelak akan menggenapi nubuat para nabi dan rasul sebelum dan sesudahnya, serta merupakan salah satu dari tanda-tanda telah dekatnya Hari Kiamat. Sebagai seorang nabi, tentu saja Nabi Musa mengenali sosok Samiri ini, karena tidak seorang nabi pun diutus kepada kaumnya, melainkan diberitahu oleh Allah mengenai sosok bernama Dajjal dan berkewajiban memberi peringatan kepada kaumnya akan bahaya fitnah Dajjal tersebut.


Rasulullah SAW berdiri di hadapan manusia, menyanjung Allah SWT dengan sanjungan yang merupakan hak-Nya, kemudian menyebut Dajjal dan berkata, “Aku memperingatkan kalian darinya. Tidaklah ada seorang nabi kecuali pasti akan memperingatkan kaumnya tentang Dajjal. Nuh a.s. telah memperingatkan kaumnya. Akan tetapi, aku akan sampaikan kepada kalian satu ucapan yang belum disampaikan para nabi kepada kaumnya. Ketahuilah dia itu buta sebelah matanya, adapun Allah SWT tidaklah demikian.” (HR. Ahmad, Bukhari, dan Muslim).


“Maukah aku sampaikan kepada kalian tentang Dajjal yang belum disampaikan oleh para nabi kepada kaumnya? Sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya, membawa sesuatu seperti surga dan neraka. Yang dia katakan surga pada hakikatnya adalah neraka. Aku peringatkan kepada kalian sebagaimana Nabi Nuh a.s. memperingatkan kaumnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Setelah ribuan tahun berlalu sejak peristiwa tersebut, kini, menjelang Hari Kiamat, Dajjal ternyata akan muncul kembali dalam bentuk fitnah yang lain, tetapi secara karakteristik, masih tidak jauh berbeda dengan fitnah-fitnahnya sebelumnya. Fitnah kali ini akan jauh lebih spektakuler karena didukung oleh semua daya upaya dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, baik itu ilmu sihir maupun teknologi canggih yang berhasil dicapai dan dipelajari oleh Dajjal selama ribuan tahun. Fitnah kali ini juga tidak kalah besarnya dengan fitnah “patung anak sapi emas” ataupun fitnah “Nabi Isa sebagai anak Allah”. Fitnah ini telah dipersiapkan sejak lama dan tidak ada fitnah maupun peristiwa yang pernah terjadi di muka bumi ini, melainkan hanya untuk mempersiapkan fitnah yang satu ini. Fitnah apakah itu?


“Dan, tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini – baik kecil ataupun besar – kecuali dalam rangka menyongsong fitnah Dajjal.” (HR. Ahmad).


Teori Astronot Purba dan Fitnah Dajjal Sesungguhnya


Jika kita berjalan-jalan ke toko buku dan menyempatkan diri untuk menengok rak buku tentang agama, khususnya mengenai Hari Kiamat, maka akan kita temui banyak sekali berbagai macam judul buku yang membahas mengenai fitnah Dajjal. Namun dari sekian banyak buku tersebut, hampir bisa dipastikan tidak ada satu pun buku yang menjelaskan atau memberitahukan kepada kita tentang fitnah macam apakah yang sesungguhnya akan digaungkan oleh Dajjal kelak saat kemunculannya. Banyak kajian yang hanya sekedar membahas bahwa fitnah Dajjal adalah fitnah yang sangat besar yang akan menyesatkan banyak orang. Ya, tetapi fitnah macam apakah itu? Tidak banyak orang yang mengetahuinya.


Kemudian dikatakan pula bahwa Dajjal nanti akan mengaku sebagai nabi dan lebih jauh lagi akan mengaku sebagai Tuhan. Namun sebagaimana yang kita ketahui, sudah ada begitu banyak orang di masa-masa sebelumnya yang mengaku sebagai nabi bahkan sebagai Tuhan, seperti misalnya Sai Baba yang mampu mempertunjukkan berbagai macam keajaiban yang tidak masuk akal. Orang-orang tersebut muncul silih berganti dan tidak begitu digubris oleh komunitas umat-umat beragama yang sudah mapan, seperti agama Islam atau Kristen. Bahkan tak jarang pengakuan mereka hanya mengundang tawa dan cemoohan dari umat beragama lainnya. Sehingga fitnah atau isu dengan cara mengaku dirinya sebagai nabi atau Tuhan bukanlah suatu hal yang baru. Lalu apa yang membuat Dajjal muncul dengan isu atau fitnah yang terbilang usang ini tetapi dikatakan sebagai sebuah fitnah yang sangat besar sehingga akan banyak menyesatkan orang, dan hanya sedikit sekali dari orang yang beriman yang bisa luput dari fitnahnya, bahkan dari kalangan alim ulama sekalipun?


Jawabannya adalah karena fitnah Dajjal ini kelak akan dikemas sedemikian rupa dan telah dirintis sejak lama dengan suatu isu baru yang akan mengguncang pemahaman keimanan umat beragama saat ini. Dajjal tidak akan muncul begitu saja secara alakadarnya dengan isu seperti nabi-nabi palsu lainnya, melainkan dengan isu propaganda baru yang didukung oleh sarana dan prasarana modern yang memadukan antara tipu daya yang dihasilkan oleh teknologi canggih dengan ilmu sihir tingkat tinggi. Apa isu propaganda yang diserukannya? Apa sarana teknologi modern yang dibawanya untuk mengiringi kemunculannya? Dan apa yang akan dipertunjukkannya kepada seluruh warga dunia?


Inilah skenarionya. Apa yang akan diserukannya adalah fitnah Teori Astronot Purba. Fitnah ini jauh lebih besar dari fitnah agama Kristen yang menyatakan bahwa Allah memiliki anak, karena fitnah Teori Astronot Purba adalah memfitnah Allah sebagai alien atau mahluk luar angkasa. Sementara sarana teknologi modern yang dibawa Dajjal untuk mendukung fitnahnya tersebut adalah armada piring terbang raksasa, dan apa yang akan dipertunjukkannya kepada seluruh warga dunia adalah semua bentuk mukjizat yang pernah diperlihatkan oleh para nabi dan rasul Allah. Namun mukjizat tersebut bukanlah mukjizat yang sesungguhnya melainkan adalah duplikasi atau tiruan yang dihasilkan melalui perangkat teknologi canggih atau hasil permainan ilusi dari suatu perbuatan sihir. Selain mukjizat palsu, Dajjal juga akan menunjukkan “surga dan neraka” serta mempertontonkan proses kehancuran dengan menggunakan senjata pemusnah masal, terutama terhadap kota-kota yang tidak mau beriman kepada dirinya, dengan skenario proses kehancuran yang sama persis seperti yang pernah menimpa umat-umat para nabi sebelumnya, seperti kaum Nabi Nuh, Nabi Luth, kaum A’ad, Tsamud, dan lainnya. Dengan skenario semacam ini, maka siapa pun dia yang akan mengaku dirinya sebagai nabi ataupun Tuhan, tentunya akan sukses besar untuk mencapai tujuannya.


Project Bluebeam, HAARP, dan Skenario Kemunculan Dajjal


Pernahkah anda mendengar tentang Project Bluebeam? Proyek fantastis dan futuristik yang sangat berbahaya dan berpotensi untuk menipu seluruh umat manusia karena kemungkinan besar diciptakan untuk mendukung skenario kemunculan Dajjal kelak. Project Blue Beam pertama kali diungkap oleh seorang wartawan Perancis-Kanada bernama Serge Monast pada tahun 1994. Proyek ini adalah proyek rahasia NASA dan militer Amerika yang bertujuan untuk menciptakan atau memproyeksikan gambar holografik 3 dimensi yang akan terlihat sangat nyata, tidak hanya secara optik (visual) tetapi juga mampu bersuara (audio). Proyeksi gambar holografik tiga dimensi ini pada mulanya diperuntukkan bagi strategi pertahanan dalam perang psikologis, dimana dengan proyeksi gambar holografik tiga dimensi ini, pihak militer Amerika yang tengah melancarkan serangan ke pertahanan musuh akan terlihat seolah-olah didukung oleh kekuatan pasukan yang sangat besar untuk mengecoh pandangan mata musuh, berupa pasukan atau pesawat terbang “fatamorgana”.


Namun di tangan kelompok The New World Order pimpinan Dajjal, teknologi yang dikembangkan lewat Project Bluebeam ini akan menjadi senjata penyebar fitnah yang sangat “mematikan” yang akan mengecoh iman umat manusia. Teknologi ini, dengan bantuan sejumlah satelit yang ditempatkan di berbagai penjuru angkasa, dapat menciptakan gambar holografik di langit yang menggambarkan “invasi armada piring terbang” atau turunnya “Kristus Palsu” bersama para “nabi animasi” dan “malaikat holografik” lainnya untuk mengiringi saat kemunculan atau turunnya Dajjal ke bumi, sehingga membuat semua orang yang tengadah ke langit dan melihatnya akan merasa takjub dengan fenomena tersebut, lalu langsung bersujud dan bersimpuh menyembah Dajjal, persis seperti dalam kejadian penampakan Bunda Maria di langit pada tahun 1917 dekat Fatima, Portugal.





Dengan bantuan satelit, Project Bluebeam dapat menghadirkan gambar holografik di langit yang menggambarkan “invasi armada piring terbang” atau turunnya “Kristus Palsu” bersama para “nabi animasi” dan “malaikat holografik” lainnya untuk mengiringi saat kemunculan Dajjal.


Tidak hanya citra gambar holografik yang muncul di langit, menurut Monast, penipuan tersebut juga akan disertai dengan pancaran gelombang elektromagnetik yang disebutnya sebagai “Telepati Elektronik Dua-Arah”, dimana gelombang ELF, VLF dan LF, akan dipancarkan untuk “membisikkan” ke dalam pikiran setiap orang, sesuai dengan bahasa mereka masing-masing, pesan-pesan telepatis palsu dari Tuhan, sehingga setiap orang yang terkena pancaran gelombang tersebut akan merasa dirinya telah berkomunikasi dengan Tuhan atau mendapat bisikan langsung dari Tuhan secara telepatis. Teknologi ini telah lama dikembangkan oleh pihak militer Amerika, dan menariknya, teknologi hipnotis-telepatis ini juga dapat mengendalikan pikiran orang, termasuk menyuruhnya untuk melakukan bunuh diri masal.


Dalam buku berjudul “Microwave Auditory Effect and Application” (1978) yang ditulis James C. Lynn dijelaskan bagaimana suara yang dipancarkan oleh radiasi gelombang mikro (microwave) yang dihasilkan oleh perangkat yang dimodulasi pada frekuensi audio dapat diterima langsung oleh otak manusia, sehingga memungkinkan bagi orang tuli untuk dapat mendengar. Frekuensi gelombang ini diatur sedemikian rupa agar serupa seperti impuls sistem saraf manusia sehingga akan langsung masuk ke bagian bawah sadar otak manusia tanpa harus mempergunakan perangkat mekanik untuk menerima atau men-transcording-nya, dan tanpa orang yang terkena pengaruh tersebut memiliki kesempatan untuk mengontrol masukan informasi secara sadar. Teknologi ini dikembangkan oleh salah satu kontraktor pertahanan Amerika, Loral Electro-Optical System di Pasadena, California, untuk menciptakan semacam senjata psikologis yang bisa menanamkan pesan berupa bisikan atau sugesti ke dalam pikiran tentara musuh dengan membuat sebuah perangkat yang mampu menghasilkan radiasi gelombang elektromagnetik frekuensi gigahertz yang berdenyut pada frekuensi yang sangat rendah (ELF). Beberapa peralatan semacam ini konon kabarnya bahkan sudah beroperasi di badan Central Intelligence Agency (CIA), dan Biro Investigasi Federal (FBI).


Aplikasi teknologi modern lainnya yang juga menggunakan pancaran radiasi gelombang elektromagnetik frekuensi rendah (ELF) yang kemungkinan besar juga dimanfaatkan oleh Dajjal untuk mewujudkan misinya adalah teknologi yang dikenal dengan nama HAARP (High Frequency Active Auroral Research Program). HAARP adalah sebuah fasilitas pemanas ionosfer yang dikembangkan oleh pihak militer Amerika dan dibangun di sebuah lokasi terpencil di Gakona, Alaska, yang diam-diam berfungsi sebagai senjata rahasia yang dapat mengendalikan cuaca (weather control). Tujuan sebenarnya dari dibangunnya fasilitas ini memang dirahasiakan dengan alasan demi keamanan nasional. Mereka mengatakan tujuan dibangunnya fasilitas ini adalah untuk tujuan penelitian dan pertahanan, namun banyak ilmuwan yang curiga bahwa fasilitas ini sebenarnya adalah yang bertanggung jawab terhadap terjadinya perubahan iklim global dunia, termasuk isu pemanasan global (global warming), karena mampu memodifikasi iklim atau cuaca di wilayah tertentu, bahkan menyebabkan gempa bumi dan tsunami.


Dr. Nicholas Begich yang dikenal publik aktif menentang keberadaan fasilitas HAARP, mendefinisikan HAARP sebagai “Sebuah teknologi penyorot gelombang radio super kuat yang dapat naik ke area lapisan ionosfir, dan dengan memfokuskan sorotannya maka dapat memanaskan area tersebut. Gelombang elektromagnetik yang dipancarkan tersebut kemudian dapat dipantulkan kembali ke bumi untuk menembus segalanya, baik yang hidup maupun yang mati.”


Sementara Dr. Rosalie Bartell menggambarkan HAARP sebagai, “Sebuah alat pemanas raksasa (gigantic heater) yang dapat menyebabkan gangguan besar dalam ionosfer, tidak hanya menciptakan lubang, tapi juga sayatan panjang di lapisan ozon yang selama ini menjaga planet bumi dari radiasi mematikan.”


Fasilitas HAARP sendiri terdiri dari ratusan antena pemancar yang dilengkapi dengan kontainer-kontainer pembangkit daya yang mampu mengirimkan gelombang elektromagnetik bermuatan energi ke lapisan ionosfer untuk memanasinya. Ionosfer adalah lapisan teratas atmosfer bumi yang berada pada kisaran jarak antara 50 – 1.000 km dari permukaan bumi. Akibat panasnya lapisan atmosfer maka akan menimbulkan berbagai macam efek yang mengakibatkan terjadinya perubahan iklim dan cuaca, dari mulai pemanasan global, bolongnya lapisan ozon, hingga dapat mengubah arus jet (jet stream), yaitu semacam aliran arus angin di atmosfir yang membawa uap air dari satu wilayah ke wilayah lainnya dan sangat berperan penting dalam siklus perubahan musim dan iklim di planet bumi. Dengan memanasi lapisan ionosfer di titik tertentu, maka akan menyebabkan terjadinya perubahan tekanan udara di atmosfer yang bisa membelokkan arus jet ini sehingga dapat membuat suatu wilayah tidak mendapatkan uap air dan mengalami kekeringan, atau sebaliknya dapat membuat suatu wilayah kebanjiran dan dilanda hujan badai. Dengan kemampuan ini, maka fasilitas HAARP dapat membuat banjir bandang, kekeringan, hingga badai topan di wilayah-wilayah yang tidak lazim yang seharusnya tidak mengalami bencana-bencana alam semacam itu. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Rosalie Bartell, “Para ilmuwan militer Amerika telah mempelajari sistem cuaca sebagai senjata potensial. Metodenya termasuk dengan meningkatkan badai dan membelokkan arus uap air di atmosfer bumi untuk menghasilkan kekeringan atau banjir pada target tertentu.”




Fasilitas HAARP di Gakona, Alaska, yang terdiri dari ratusan antena pemancar dan kontainer pembangkit daya yang mampu mengirimkan gelombang elektromagnetik bermuatan energi untuk memanasi lapisan ionosfir.


Tak hanya mampu mengubah iklim dan cuaca di wilayah tertentu, gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh ratusan antena HAARP juga dapat mengubah komposisi ion di lapisan atmosfer atau membuatnya menjadi lebih reaktif, sehingga bisa menciptakan semacam selubung yang terbentuk dari partikel-partikel di atmosfir yang memantulkan kembali gelombang elektromagnetik yang dipancarkan hingga menembus lapisan kerak bumi untuk mengganggu titik-titik labil lempeng bumi di wilayah tertentu sehingga kemudian memicu terjadinya gempa bumi, dan bila gempa bumi ini terjadi di kedalaman laut, maka otomatis akan memicu terjadinya tsunami, seperti yang terjadi di Aceh dan Jepang yang ditengarai para ilmuwan juga sebagai akibat dari uji coba senjata rahasia Amerika yang satu ini. Tidak mengherankan bila mendiang Presiden Venezuela, Hugo Chavez, langsung menuding pihak Amerika dan HAARP sebagai penyebab terjadinya gempa bumi di Haiti (Januari 2010) dan Chili (Februari 2010) yang dinilai sangat tidak lazim.


HAARP kini merupakan bagian dari arsenal senjata futuristik milik kelompok The New World Order yang berada di bawah pengembangan pihak Strategic Defense Initiative (SDI), milik Departemen Pertahanan Amerika, sebagai salah satu instrumen penting untuk mengusai dunia lewat destabilisasi dan manipulasi iklim. Pendeknya, kemampuan untuk mengubah dan mengendalikan cuaca di tangan kelompok The New World Order telah menjadikan mereka “mengambil alih wewenang Tuhan” dengan mengubah hukum alam menjadi senjata pemusnah massal yang jauh lebih berbahaya dari bom atom karena potensinya yang besar untuk menghancurkan iklim planet bumi secara global.


Petunjuk Rasulullah SAW beberapa abad yang silam yang mengisyaratkan kepada kita bahwa Dajjal juga mempergunakan senjata pengendali cuaca (weather control) semacam HAARP ini untuk melancarkan tipu dayanya dapat dilihat dalam hadist riwayat Annawwas bin Sam’an r.a. yang mengatakan bahwa, Rasulullah SAW bersabda; “Dajjal itu datang kepada suatu kaum, lalu ia mengajak mereka, kemudian mereka itu beriman padanya dan mengikuti apa yang dikehendaki olehnya. Ia menyuruh langit supaya menurunkan hujan, lalu turunlah hujan, ia menyuruh bumi supaya menumbuhkan tanaman, lalu tumbuhlah tanaman. … Seterusnya, datanglah Dajjal itu pada suatu kaum, lalu mereka itu diajaknya mengikuti kehendaknya, tetapi mereka menolak, kemudian kembalilah Dajjal itu meninggalkan mereka. Kaum yang menolak ini – karena ketetapan keimanannya – pada keesokan harinya telah menjadi kering daerahnya, seolah-olah telah lama tidak kehujanan….” (HR. Muslim)


Dari hadist di atas jelas dapat kita ketahui bahwa salah satu tipu daya Dajjal adalah dengan cara mempermainkan cuaca, yaitu dengan mendatangkan hujan kepada kaum yang mau beriman kepadanya, dan sebaliknya, mendatangkan kekeringan atau bencana alam yang ia timpakan kepada kaum yang menolak atau menentangnya. Tak menutup kemungkinan bahwa dibalik kemampuan Dajjal ini sesungguhnya didukung oleh fasilitas HAARP yang telah dibangun dan dikembangkan pihak militer Amerika saat ini.


Kembali ke masalah tentang Project Blue Beam. Sebelum kematiannya yang mendadak dan misterius, yaitu akibat “serangan jantung” yang terjadi hanya selang dua tahun (1996) setelah mengumumkan hasil investigasinya, Serge Monast pernah memberitahukan mengenai langkah-langkah awal kemunculan Anti-Kristus (Dajjal) yang menurutnya sangat berkaitan erat dengan tujuan akhir dari kelompok The New World Order. Menariknya, langkah-langkah tersebut hampir mirip dengan permulaan tanda-tanda kiamat besar yang pernah dinubuatkan oleh Rasulullah SAW, dimana sebelum kemunculan Dajjal, Rasulullah pernah menyebutkan akan terjadi tiga kali keguncangan (gempa) besar, masing-masing di belahan bumi bagian barat, bagian timur, dan di jazirah Arab. Sementara, secara kebetulan, Serge Monast sendiri juga menyebutkan bahwa sebelum kemunculan Anti-Kristus yang disertai berbagai macam proyeksi gambar holografik tiga dimensi di langit, akan terlebih dahulu diawali oleh serangkaian peristiwa gempa di berbagai tempat di bumi. Namun peristiwa ini bukan gempa sembarang gempa, melainkan adalah gempa bumi buatan atau gempa bumi artifisial. Apa yang sesungguhnya ingin diperlihatkan Dajjal Anti-Kristus ini dengan gempa buatannya tersebut?


Monast mengatakan bahwa tujuan dari dimunculkannya gempa bumi buatan tersebut adalah untuk mengungkap sebuah penemuan arkeologi rekayasa dari dalam perut bumi yang akan menjelaskan kepada semua orang mengenai “kesalahan” atau “kekeliruan” doktrin agama-agama besar dunia yang menyakini akan adanya konsep Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta. Pemalsuan informasi lewat penemuan arkeologis yang diklaim berumur sangat tua ini akan dipergunakan oleh para kaki tangan Dajjal Anti-Kristus untuk membuat semua bangsa “tersadar” bahwa doktrin agama mereka selama ini telah disalahpahami atau disalahartikan. Pendeknya, penemuan ini akan “menyadarkan” semua orang bahwa yang selama ini mereka sebut sebagai Tuhan itu ternyata tidak ada. Monast sendiri memang tidak menjelaskan secara detil penemuan arkeologis macam apakah itu. Ia hanya menyebut bahwa penemuan ini berhubungan dengan invasi dari luar angkasa dan teori evolusi.


Jika kita ambil benang merahnya, penemuan arkeologis yang dikatakan oleh Monast tersebut sangat mungkin adalah penemuan yang berhubungan erat dengan Teori Astronot Purba. Mungkin semacam penemuan “kapal induk luar angkasa purba yang berumur sangat tua” yang di dalamnya terdapat semacam “laboratorium alien” yang berisi berbagai macam sisa-sisa spesies mahluk hidup yang pernah eksis di masa lampau. Untuk menunjukkan bahwa semua mahluk hidup di bumi ini sebenarnya diciptakan oleh alien bukan oleh Tuhan. Kebohongan ini adalah langkah awal untuk menghancurkan keyakinan atau minimal menimbulkan keragu-raguan kaum umat beragama, terutama umat Kristen dan Muslim. Untuk tujuan tersebut, mereka memang harus mengajukan bukti-bukti ilmiah dari masa lampau, berupa penemuan arkeologis berumur sangat tua tapi palsu yang akan mengguncang keimanan semua orang. Baru kemudian adalah pembukaan dari pertunjukan utamanya, yaitu invasi armada piring terbang yang disertai dengan proyeksi gambar-gambar holografik menyesatkan yang muncul di langit.


Pada tahap ini, mitos atau propaganda mengenai invasi alien (alien invasion myths) yang telah digembar-gemborkan selama ini, bisa jadi akan mengundang reaksi negatif dari kekuatan angkatan udara negara-negara di dunia. Namun hal itu bukanlah masalah, melainkan justru merupakan bagian dari “pertunjukan” itu sendiri dimana armada piring terbang Dajjal akan mempertontonkan kemampuan mereka yang tak tertandingi di bidang teknologi persenjataan dengan merontokkan pesawat-pesawat tempur negara-negara dunia yang coba menghadang, juga menghancurkan pangkalan-pangkalan udara mereka, tak terkecuali milik pihak militer Amerika sendiri, karena tindakan ini adalah merupakan bagian dari skenario. Skenarionya mirip dengan film “Independence Day” namun dengan ending yang berbeda. Setelah semua kekuatan militer hancur dan para penduduk dunia menyadari ketidakberdayaan mereka dalam melawan invasi “mahluk-mahluk dari luar angkasa” tersebut, maka barulah langkah berikutnya dijalankan, yaitu memperlihatkan proyeksi gambar holografik ke seluruh penjuru dunia.




Apakah film “Independence Day” sesungguhnya merupakan isyarat kelompok The New World Order tentang bagaimana kemunculan Dajjal kelak?


Gambar-gambar proyeksi holografik berupa citra penampakan sosok Yesus, Muhammad, Musa, Buddha, Krishna, dan tokoh-tokoh agama dunia lainnya di masa lampau, lalu muncul seolah-olah turun dari langit, bergabung menjadi satu sebagai pengiring bagi kemunculan Dajjal. Penampakan ini tentunya akan dibarengi pula oleh “Suara Tuhan” yang akan diperdengarkan dalam semua bahasa yang berisi penjelasan yang benar menurut versi mereka mengenai wahyu kitab suci. “Suara Tuhan” ini akan disampaikan secara telepatis dengan gelombang elektromagnetik frekuensi rendah yang dipancarkan ke segenap penjuru. Isinya antara lain adalah berbagai tafsiran ayat yang selama ini dianggap telah disalahpahami atau disalahartikan oleh umat manusia dan banyak menimbulkan berbagai macam perpecahan bahkan peperangan antar umat beragama. Kemunculan Dajjal tersebut akan menyalahkan agama-agama besar dunia, lalu menghapuskannya dan menggantikannya dengan satu agama zaman baru yang diwakili oleh satu sosok tuhan yang bisa dilihat langsung oleh semua manusia. Sosok tuhan yang bisa dilihat langsung oleh manusia sendiri ternyata sudah jauh-jauh hari disosialisasikan Dajjal dengan diciptakannya agama Kristen, yang menjadikan sosok Yesus sebagai Tuhan, sehingga umat manusia nanti tidak lagi merasa heran ataupun skeptis dengan sosok Dajjal sebagai tuhan yang notebene serupa dengan manusia.


Pada tahap ini pula, Dajjal akan memperlihatkan apa yang disebutnya sebagai surga dan neraka. Surganya adalah fasilitas-fasilitas yang berisi segala kemewahan dan kesenangan duniawi, sementara nerakanya adalah fasilitas-fasilitas krematorium bawah tanah yang dibangun dekat kawah-kawah vulkano. Selain itu, Dajjal juga akan memperlihatkan berbagai macam mukjizat yang pernah diperlihatkan oleh para nabi dan rasul terdahulu, seperti membelah lautan, menurunkan makanan berupa roti dan madu seperti yang pernah diturunkan kepada kaum Bani Israel di zaman Nabi Musa, juga menyembuhkan berbagai macam penyakit, menghidupkan kembali orang mati, dan lain sebagainya. Namun di belahan bumi lainnya, yang penduduknya menolak untuk beriman kepadanya, kehancuran besar seperti umat Nabi Luth, banjir besar dan tsunami seperti umat Nabi Nuh, tornado dan senjata petir (death rays) seperti yang terjadi pada kaum A’ad dan Tsamud, akan ditimpakan Dajjal kepada mereka.


Dari Buraidah r.a., Rasulullah SAW bersabda; “Tidakkah engkau semua suka saya beritahu perihal Dajjal, yaitu yang belum pernah diberitahukan oleh seseorang Nabi pun kepada kaumnya. Sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya dan sesungguhnya ia datang dengan sesuatu sebagai perumpamaan surga dan neraka. Maka, yang ia katakan bahwa itu adalah surga, sebenarnya adalah neraka.” (HR. Muttafaq’alaih)


Dengan semua fitnah yang dilakukan oleh Dajjal itu, This one god will, in fact, be the Antichrist, who will explain that the various scriptures have been misunderstood and misinterpreted, and that the religions of old are responsible for turning brother against brother, and nation against nation, therefore old religions must be abolished to make way for the new age new world religion, representing the one god Antichrist they see before them.pada akhirnya, manusia pun akan mengakui bahwa satu sosok alien yang mengendarai piring terbang tersebut adalah Tuhan. Tuhan dari tokoh-tokoh agama dunia di masa lampau. Namun pada kenyataannya, sosok itu adalah Dajjal alias Anti-Kristus yang telah dinubuatkan oleh Rasulullah SAW dan para nabi lainnya. Semua skenario tersebut disusun oleh Dajjal sebagai kebohongan atau fitnah tingkat tinggi yang dijamin tidak banyak orang yang akan mampu untuk bisa menolaknya, dimana hipnotis-telepatis dengan menggunakan radiasi gelombang elektromagnetik ditambah dengan proyeksi gambar holografik, armada piring terbang raksasa, dan juga senjata pengendali cuaca (HAARP), sudah lebih dari cukup bagi Dajjal untuk bisa memurtadkan seluruh umat manusia sekaligus menobatkan dirinya sebagai Tuhan. (***)


Sumber:

Chossudovsky, Michel. 2000. H.A.A.R.P.
http://www.fromthewilderness.com/free/pandora/haarp.html

Dawud, Muhammad Isa. 1996. Dajjal akan Muncul dari Segitiga Bermuda. Pustaka
Hidayah. Bandung.

Ghofur, Saiful Amin. 2009. Dajjal: Risalah Akhir Zaman. Penerbit A+Plus Books.
Yogyakarta.

Monast, Serge. 1994. NASA’s Project Blue Beam. http://educate-
yourself.org/cn/projectbluebeam25jul05.shtml